Kuliah ini membongkar asumsi saya bahwa pelajaran kejuruan netral nilai. Diskusi tentang hidden curriculum membuat saya memilih topik pendidikan nilai karena langsung menyentuh praktik: aturan kelas, cara memberi pujian, hingga siapa yang paling sering saya panggil.
Saya sadar selama ini menyanjung murid “pintar”, bukan usahanya — bentuk diskriminasi halus yang saya lakukan tanpa sadar. Perubahan konkret: pujian saya arahkan pada strategi dan proses, dan saya membuka ruang agar murid boleh salah dengan aman.
Artefak tugas etika profesi di LMS menunjukkan evolusi jawaban saya: dari daftar prinsip normatif menjadi kasus nyata kelas. Umpan balik dosen menyoroti kedalaman analisis kasus sebagai kekuatan, dan konsistensi istilah sebagai hal yang perlu dirapikan.
Pendidikan nilai tidak diajarkan, melainkan diteladankan lewat keputusan mikro setiap hari. Komitmen saya: mengaudit sendiri pola interaksi kelas setiap bulan dan menjadikan kejujuran intelektual nilai utama ruang kelas praktik.